Travel

Amsterdam Couchsurfing: Tuhan itu Maha Bercanda, Selalu di Tempat yang Gak Pernah Kita Duga!

May 16, 2018

Berawal dari solo-travelling gue ke Eropa akhir tahun lalu, waktu itu gue sedang berada di Amsterdam, kota favorit ke-2 gue setelah kota-kota cantik di Swiss (Seriously, dude, you HAVE TO visit Switzerland before you die! It’s waaayy too beautiful there!). Saat itu adalah hari ke-7 gue berada di Amsterdam, gue masih di kamar hotel sambil leyeh-leyeh membuka aplikasi Couchsurfing, aplikasi andalan gue saat solo-travelling untuk mencari teman di lokasi sekitar dan gue posting rencana gue untuk pergi ke Van Gogh Museum, lalu masuklah notifikasi bahwa ada yang mau join hangout gue, namanya Jenn, asal Filipina yang lagi solo-travelling juga kayak gue. Akhirnya kami janjian buat ketemu di Van Gogh Museum pukul 12 siang waktu setempat.

Antrean masuk ke Van Gogh yang supeeerr panjang!

Gue yang tiba lebih dulu di Van Gogh Museum langsung ikut antre yang panjaaaaaaaangg banget, sampai mengekor antreannya saking panjangnya. Setelah 30 menit kemudian, ada seorang perempuan seumuran gue yang menghampiri gue di barisan antrean sambil berkata, “Hi, Nuke!”. Nggak tahu kenapa, gue seneng banget ketemu Asian fellow di negara Eropa, apalagi sesama solo-traveller. Kami saling bercerita bahwa hal yang paling nggak ngenakin dalam solo-travelling adalah nggak bisa ngambil gambar yang proper dari jarak jauh. Sebenernya bisa sih, lo minta tolong sesama traveller lainnya yang sedang berada di lokasi, but most of them doesn’t care if the photo is blurry or you look so ugly. Karena kebanyakan orang Eropa akan menganggap aneh orang Asia yang terlalu banyak berfoto-foto (baca: kayak gue & Jenn. LOL).

Dear Amsterdam, why are you so beautiful?

Setelah capek berjalan kaki, akhirnya nemu juga Van Gogh Museum.

Anyway, ada satu kejadian di dalam Museum, pas gue lagi gantian ngambil foto Jenn yang ceritanya lagi ngeliatin lukisan menggunakan kamera mirrorless, tiba-tiba gue dihampiri oleh petugas wanita paruh baya berbaju safari warna biru donker dengan ekspresi wajah kayak mau makan orang, dia memaki gue dengan nada tinggi banget sampai semua orang menoleh ke arah gue karena gue dilarang mengambil foto di situ. Sontak gue kaget, I was like, “What the hell!?”, dan lo tau dong apa yang terjadi selanjutnya? Ya, cekcok mulut di antara kami berdua. Begitu banyak orang-orang yang ngambil foto pakai kamera SLR ataupun mirrorless saat di situ, bahkan di lantai 1, 2, & 4 pun aman-aman aja untuk ngambil foto. Tapi saat di lantai 3 itu, apes banget lagi ketemu penjaga yang rese abis (maybe she hasn’t get laid for years! LOL!). Dan yang paling membuat gue tidak respek adalah caranya yang tiba-tiba datang trus memaki gue. Kalau itu adalah teguran ke-2 atau ke-3xnya, gue akan memaklumi. Tapi ini teguran pertama, dan langsung memaki. Situasi agak menegangkan jadinya.

 

Foto di dalam Van Gogh Museum.

Tapi Tuhan Maha Baik, tiba-tiba ada stranger ibu-ibu bule, dia lewat di depan kami, sambil ngomong ke petugas nenek tersebut, “There’s a bunch of people who’s taking pictures with their cameras anywhere in here, it’s not only her”, I don’t know why that monster was hitting soo freaking hard on me, I guess she haven’t get laid for years! LOL. Langsung petugas tersebut terdiam keki (tapi tetep dengan ekspresi kayak mau makan orang), hingga akhirnya Jenn megang lengan gue, dan berusaha nenangin sambil ngajak gue pergi menjauh dari monster tersebut.

Capek ngiterin Van Gogh Museum, leyeh-leyeh dulu di taman.

 

Selfie sambil nungguin tram dateng.

Foto di depan Rijk Museum, dan Jenn yang fotoin! xD

Long story short, Jenn was doing the right thing. Dan gue agak terharu setelahnya, karena dia tau cara nenangin gue padahal kami baru ketemu hari itu juga. Karena kalau masih lanjut di situ, pasti bakalan terus berlanjut cekcoknya. Selalu . Setelah capek menjelajah Amsterdam seharian, kami sebenernya udah ngantuk (Jenn stay di sebelah utara Amsterdam, sekitar 30 menit naik kereta dari Amsterdam), karena gue stay di daerah Red Light District, kami ke situ dulu. Red Light District bener-bener rame banget! Bahkan semua pubs & bars penuh! Akhirnya kami memutuskan untuk…… nonton Live Couple Intimate Show! Hahaha! Red Light District memang pusatnya hiburan di Amsterdam, gue coba googling nama tempat yang paling rame antreannya, dan kami akhirnya coba ke situ. Penjaga-penjaga berbadan tinggi tegap besar mendatangi antrean satu persatu untuk bertanya apakah mau tiket dengan yang sudah include minuman atau tidak. Mereka juga menerima pembayaran dengan kartu kredit, so if you doesn’t enough cash, it won’t be a problem!

Kiri: Tiket masuk nonton Live Couple Intimate Show, gratis lollipop berbentuk penis. Kanan: Mirror selfie sambila antre masuk ke dalam area pertunjukan dengan muka capek tapi hepi.

Tatanan kursinya mirip seperti kursi di bioskop, kalian bebas memilih duduk di mana pun, karena tidak ada nomor kursi yang tertera. Handphone dan kamera tidak diperkenankan selama acara berlangsung, tapi kalau kalian nekat, hasilnya akan seperti di cowok di depan kami yang handphonenya disita oleh petugas. Nanti petugas akan mendatangi kalian dan menanyakan ingin minum apa, lalu minuman tersebut akan diantar ke kursi kalian, dan gue memilih Gin & Tonic.

Anyway, Amsterdam adalah kota yang melegalkan ‘sayur kering’. Jadi jangan heran jika saat menginjakkan kaki pertama kali di Amsterdam, bau menyengat ‘sayur kering’ akan tercium di seluruh penjuru kota Amsterdam. Selain itu, harga rokok di Eropa cukup mahal, jadi jarang orang yang merokok terus menerus seperti di Jakarta. Kalau kalian merokok sendiri pun biasanya akan ada yang mendatangi kalian dan meminta sebatang rokok kepada kalian.

 

Keadaan Red Light District malam itu

Tapi pengalaman gila nggak berhenti sampai di situ aja ternyata. Besoknya kami janjian lagi buat ke Zaanse Schans, tempat andalan buat berfoto di depan kicir angin khas Belanda. Kami naik kereta dari stasiun di Amsterdam, menuju satu tujuan (gue lupa namanya apa, I’ll update it later), pas sampai sana kami (laga-lagaan) naik bus. Berujung dengan nyasar. Alhasil kami duduk di halte bus sambil sibuk buka handphone untuk ngeliat peta, berusaha memecahkan teka-teki harus naik apa ke sana. Cuaca sore itu agak mendung, dan entah kenapa daerah itu super duper sepi banget, mobil ada yang lewat tapi cuma sesekali. Trus gue nyeletuk ke Jenn, “I feel like we’re in a dead city, no one lives here, it’s like just the two of us, in a horror/thriller movie”, trus Jenn ketawa nanggepin omongan gue.

 

Kami sibuk ngeliat handphone masing-masing, tiba-tiba ada suara kenceng banget, sampai kami kaget, and we realized, that, it was, an egg. Ya, seseorang melempari kami telur mentah dari mobilnya. Jadi, persis di depan halte busway itu ada pertigaan lampu merah, ada mobil ngebut sekali dan melempari kami telur mentah. Untungnya pada saat itu meleset jadi hanya kena atap halte bus. Gue dan Jenn langsung lihat-lihatan tanpa sepatah kata pun dengan ekspresi wajah kebingungan dan ketakutan. Gue dan Jenn coba menerka-nerka kenapa kami sampai dilempari telur kayak gitu, berbagai spekulasi muncul, tapi tetap ngga ada yang tau jawaban pastinya. Karena suasana makin mencekam, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Amsterdam.

Persis di lokasi kejadian gue & Jenn dilemparin telur mentah oleh stranger yang ngebut nyetir mobil. Di halte bus, kesasar, lagi hujan, suasana mencekam dan sepi banget.

 

Pasca dilempari telur mentah, lalu balik ke Amsterdam dan makan di restoran Singapore. Susyeh emang lidah Asia xD

What a day, huh? Namun entah kenapa setelah berbagai kejadian yang kami alami di Belanda dan ditambah banyak ngobrol bikin pertemanan kami makin erat. I feel like we’re sisters by heart that I just met few days. Dan pada saat gue tau Jenn harus ke Paris esok harinya, gue agak sedih. Pengennya lebih lama lagi jelajah Amsterdam bareng dia. She’s such a sweetheart, beautiful inside and outside, and also, a genuine person. Dan gue beneran gak nyangka bakalan ketemu temen seasik dan senyambung itu dari Couchsurfing di Eropa. Karena yang gue temui sebelumnya, selalu orang-orang dengan penuh ‘hidden agenda’ (especially the opposite sex ones), kalau diceritain sih bisa satu post sendiri nih soal pengalaman baik dan buruk gue main Couchsurfing. Hehehe.

Gue pakai Couchsurfing pun belum terlalu lama, tapi gue cukup intens di Couchsurfing karena gue emang seneng jalan-jalan dan ketemu orang baru even gue lagi di Jakarta. Amsterdam jadi kota terakhir gue sebelum akhirnya gue balik ke Indo, tapi justru di kota terakhir itu gue ditemukan sama temen yang asik banget, padahal negata-negara sebelumnya gak ada yang seasik dia atau bahkan cenderung ‘gak beres’. But that’s the beauty of life, isn’t it? Bceause Lord always works in mysterious ways, indeed. :)

“Het grootste geschenk van het leven is vriendschap, en ik heb het gekregen.”

But the excited part was, gue & Jenn berjanji buat liburan bareng lagi. So, there will be part two for this story. ;)

‘Til our next adventure, Jenn! xx